Ini hanya sepotong cerita tentang seorang mahasiswa pada suatu hari. Kisahnya simpel, mahasiswa ini hanya mempertahankan idealismenya: tidak menyontek saat ujian.
Alkisah, mahasiswa ini mau ujian Sejarah Kolonialisme Negara-negara di Afrika. Dengan semangat membaja hingga ke dalam relung dia memperdalam materi yang sekiranya akan diujikan. Kalian mau tanya tentang negara apa di Afrika? Mahasiswa ini akan menjawabnya.
Hari ujian pun tiba. Mahasiswa ini masuk ke kelas lalu duduk di depan sehingga dapat bertatap muka langsung di hadapan dosen, sendirian, dan tanpa ada orang di kanan kirinya. Tujuannya satu: ingin mengukur sejauh mana kemampuannya tentang mata kuliah ini, untuk itu ia tahu bahwa ia harus menjawab soal dengan kemampuan sendiri tanpa berbuat curang.
.

.
Esai terdiri dari empat soal, yakni Libya dengan Moammar Khadafinya, Mesir dengan Terusan Sueznya, Sudan dengan Nimeirinya, dan kembali lagi ke Libya dengan potensi yang dimilikinya di berbagai bidang. So far so good lah untuk empat soal itu. Kini tiba kuis peta. Syaratnya mudah, yaitu tidak ada coretan. Sungguh-sungguh-sungguh, saat inilah ketidaksempurnaan menjadi sebuah kedongkolan. Ketika mahasiswa ini mau menandai sebuah negara sebagai jawaban, dia malah menandai negara lain di sebelah negara yang ia maksud (terjadi tidak hanya satu kali); ketika sadar bahwa ia salah negara, ya sudahlah itu dongkol ditelan bulat-bulat—tidak boleh ada coretan, tidak boleh ada perbaikan. Kemudian, mahasiswa ini berkata kepada dirinya sendiri, “Lebok tah… Lebooookkk!”. Aaarrrgghh!! Mahasiswa ini menggerutu sendiri, dosennya hanya senyum-senyum bijak saja (mungkin dalam hati dosen berkata, ‘Makanya, Nak, telitilah saat mengerjakan soal.’)
Mahasiswa ini ingat, ketika kelas 4 SD ia pernah disuruh guru bahasa Indonesianya untuk membacakan sebuah puisi di depan kelas. Sial sekali, di tengah-tengah puisi ia lupa satu baris, padahal ia ingat berbait-bait setelahnya. Ia tidak mau melanjutkan puisi tanpa baris yang ia lupakan, karena itu ia pun bilang, “Saya lupa, Pak.”. Gurunya bingung, muridnya yang satu ini langganan nilai rentang 8.5-10, tapi sekarang ngedrop di tengah puisi. Akhirnya, guru ini berkata, “Sepandai-pandainya bajing melompat, pasti akan jatuh juga.”
Ya, sekarang peribasa itu seolah kembali terulang. “Tenang… tenang… Kamu tidak seburuk itu juga. Itu kan hanya segelintir soal yang tidak tepat isinya. Tidak banyak, kok,” kata mahasiswa ini menghibur diri sendiri. Baiklah, bajing memang pasti jatuh, tapi bajing ini tidak boleh jatuh di Afrika.
“Ya udah lah yaa,” kata mahasiswa itu lagi-lagi. Tapi-tapi-tapi, ketika ia di luar ruangan dan sedikit membahas soal ujian yang tadi, salah seorang temannya berkata, “Untung urang tadi liat peta, jadi tau di mana negara itu.” – Yang kemudian ditimpali kepada teman yang lain, “Heueuh, urang ge tadi poho negara eta, untung nanya ke si ieu, langsung we dibuka petanya.” – Yang lain tidak mau ketinggalan, “Iya, tadi juga aku ga tau, untung aja dikasih tau si ieu.” – dan lainnya, dan lainnya, dan lainnya….
Tahu reaksi mahasiswa ini? No, no, no. Tidak, mahasiswa ini tidak mengeluarkan umpatan sumpah serapah ataupun menghujat dengan kalimat, “Go to hell with your map!”. Mahasiswa ini hanya… tersenyum. Dengan tidak peduli atas sikap teman-temannya, ia kembali bergumam dalam hati, ‘Ya, yang tadi itu ujian. Dan, saya telah lulus… dari ujian kejujuran.’ — Aamiin….
.
[]
.
Memahami perjuangan nyata mahasiswa
Demi sebuah idealisme anti-sontek yang dipertahankan
Setelah matahari tenggelam di Bandung,
Kamis, 12 November 2009 | 19.16
Yasmin Nindya Chaerunissa