Atau Mungkin Juga Tidak

Posted in Deep Inside?, Rangkaian on 8 Februari 2010 by YasminNCH

Pada sore ini akhirnya aku tahu persis bagaimana cara untuk menemukanmu. Ya, demi kamu, hanya demi kamu, mungkin suatu Rabu kelak di semester ini aku rela bolos—hanya demi kamu.

.
.

Jadi, sekitaran pagi aku akan menunggumu di tempat terakhir kita bertemu: Dipatiukur. Di sana, mataku akan menjalar-jalar mencari sosok anehmu yang tidak mungkin akan dilewatkan. Dan ketika aku mendapatimu menaiki sebuah bis, maka aku akan bergegas—seperti dikejar anjing—ikut menumpang di bis yang sama denganmu.

Kemudian kuharap aku punya bakat akting. Kamu akan melihat bahwa semuanya biasa-biasa saja. Ketika kamu melihatku, kamu akan menyapa—atau aku saja yang menyapa—dan bertingkah seakan semuanya hanya berupa serendepiti. Kupikir kamu pasti akan diam, maka aku yang sudah pontang-panting tidak bersamamu selama 18 bulan ini pun akan memeras otak sampai akhirnya aku menemukan sebuah pertanyaan bodoh yang pertama kulontarkan padamu, “Apa kabar?” —dan jawabanmu pastilah, “Baik,” dengan nada yang absolut datar. Sedingin apapun, tapi rasanya aku ingin duduk di sebelahmu (lagi), seperti yang biasa aku lakukan selama tiga tahun bersamamu.

Aku tidak tahu berapa lama ada di dalam bis itu bersamamu. Apakah kita akan mengobrol sepanjang perjalanan seperti saat kita ujian beasiswa di Jakarta pada Juni 2007 silam? Atau apakah kita akan saling diam seperti saat kamu memainkan piano lagu Eyes On Me sementara aku mendengarkannya setiap nada yang kamu alunkan pada sebuah siang di tahun pertama kita bersama? Apapun.

Bis itu melaju menuju kampusmu: Jatinangor. Perjalanan itu tidak terasa. Sepertinya singkat saja—tapi tentu seolah masih lebih singkat masa putih abu denganmu, ahh… masa itu tidak akan pernah cukup. Hingga akhirnya tempat tujuanmu sudah di depan mata. Kamu turun, pun aku. Dan dengan wajah tanpa ekspresi—seperti biasa—kamu pamit. Dan, seperti sewajarnya juga, aku pun tidak akan menahanmu. Kamu pergi, aku pergi, dan kita tidak pernah mengucapkan selamat tinggal.

Seiring langkahmu kembali meninggalkanku, aku pun kembali belajar merasakan bagaimana melepaskanmu untuk sama sekali tidak merasa kehilangan™.

Dan… Tentu saja, semua ini seperti katamu: karena ada perpisahan, maka pertemuan menjadi sangat berarti.

.
.

CATATAN: Tiba-tiba berpikir seperti ini setelah tadi kakakku bilang bahwa dia melihatmu di Dipatiukur hari Rabu pagi minggu lalu. Bisa jadi tulisanku di atas aku realisasikan, atau mungkin juga tidak.

.
.

[]

.
.

Untuk Nii-chan terbaik sepanjang masa,
Seperti pertemuan, perpisahan pun tidak ada yang abadi.
Bandung, 8 Februari 2010, 22.06

Yasmin Nindya Chaerunissa

Picho

Posted in Uncategorized on 21 Januari 2010 by YasminNCH

Dear Picho, it’s been one year of us. 365 days with u are very nice. I realize there’s nothing last forever; but I hope we will always be together as long as we can. Otherwise, u will always be my beloved DSLR. Much love, YasminNCH.

:((

Posted in Deep Inside? dengan kaitan (tags) , , on 9 Januari 2010 by YasminNCH

.

“U might b best friend this time…and b good friend later…but may b we cant talk ich other next time…even if i cant meet u again U r still my best friend…”

.

—From: Donny Onii!!, Sent: 08-Nov-2007 17:10

.

.

.

.

[Yes, I do miss him, everymuch.]

.

[Sedang mendengar OST Taegukgi]

.

[Aku kangen dia atau aku kehilangan dia?]

.

Ditodong Hujan Melankolis, Ar?

Posted in Deep Inside?, Rangkaian dengan kaitan (tags) , , , on 7 Januari 2010 by YasminNCH

PROLOGUE:

Hari ini, hujan melankolis menemani saya menembus ruang dan waktu. Kemudian, setelah menemukan seseorang dengan melekatkan suatu rangkaianmu pada dirinya, akhirnya saya dapat berucap:

.

“Aku cemburu padanya, Ar.”

.

Dan, kalau kamu hanya mencari sensasinya saja, lebih baik tidak usah sekalian. Sekarang ini mungkin saya, tapi kalau nanti itu dia, maka ****** yang baru semalam itu, saya janjikan tidak akan pernah ada lagi.

.

.

.


INSTRUMENT: Ar, seharusnya kamu tidak perlu bereaksi berlebihan. Saya punya dunia yang harus saya urus, dan kamu hanya orang yang tidak sengaja saya dapati dalam suatu jajaran nama dengan sederet nomor telepon lalu kamu dihubungi untuk bertukar sesuatu dan akhirnya nama kamu mengambang di sebuah dunia maya yang mulai hilang sensasinya. Ya, saya pernah bilang kalau T itu punya alasan mempertemukan kita, tapi ya terus kenapa kamu harus seperti itu? Lagi pula, dalam hidup, bukan kamu saja yang harus saya urus.

BRIDGE: “Siapa yang kamu jumpai? Dan rangkaianku yang mana, Ar? Bagaimana kenapa kamu cemburu? Karena seseorang yang kamu cemburui pun belum kutahu siapa.”

CODA: “Aku tahu kamu itu orang baik yang cerdas, sehingga kalau banyak orang yang senang padamu, itu hal wajar; begitu pun kalau ada yang memakai rangkaianmu, itu juga wajar, tentu, rangkaian bagus pastilah disukai banyak orang. Begitu saja, ya, Ar. Seharusnya aku tidak perlu bereaksi berlebihan.”

EPILOGUE: “Ar… Masih ada ga sms-ku yang isinya seperti ini: ‘iya, aku terima (walau hanya satu malam ini saja). *asal jangan pergi jauh setelahnya*‘  — See? Asal jangan pergi setelahnya. Aku yang tidak ingin kamu pergi jauh, bagaimana bisa ninggalin kamu? Hm? Aku tidak peduli siapa dia yang kamu maksud. Aku cukup kenal kamu di dunia nyata. Iya kan? Jawab dong Ar.”

FADE END:Ya, ketika kamu di dunia maya sama dia saja. Tenang, Ar, kamu tahu aku baik-baik saja, kan? Tidak perlu khawatir.”

.

[]

.

[being like this is so suck]

.

Penolakan Jalang

Posted in What The... dengan kaitan (tags) , , , , on 5 Januari 2010 by YasminNCH

“Saya tahu kamu itu memiliki tubuh montok yang amboi nian. Dadamu sungguh jauh dari kata rata dan bibirmu itu menundang orang untuk mencumbunya. Wajahmu kurang sensual apa lagi coba? Yayayaa… Saya tahu itu. Kamu tahu itu. Semua tahu itu. Kamu boleh menjajakan daya tarikmu, itu hak kamu sepenuhnya. Dan, sungguh saya tidak peduli apakah kamu mendapat surplus komisi dari Mama Mucikari atau pun Om Germo yang memperdagangkan kamu. Tapi, lebih sungguh lagi, jangan pernah kamu asongkan perilaku binatang kirik kamu itu di hadapan saya, Jalang!”

—saya juga tahu Anda menolak saya, tapi caranya biasa aja dong—

.

[]

.

WTF