Pada sore ini akhirnya aku tahu persis bagaimana cara untuk menemukanmu. Ya, demi kamu, hanya demi kamu, mungkin suatu Rabu kelak di semester ini aku rela bolos—hanya demi kamu.
.
.
Jadi, sekitaran pagi aku akan menunggumu di tempat terakhir kita bertemu: Dipatiukur. Di sana, mataku akan menjalar-jalar mencari sosok anehmu yang tidak mungkin akan dilewatkan. Dan ketika aku mendapatimu menaiki sebuah bis, maka aku akan bergegas—seperti dikejar anjing—ikut menumpang di bis yang sama denganmu.
Kemudian kuharap aku punya bakat akting. Kamu akan melihat bahwa semuanya biasa-biasa saja. Ketika kamu melihatku, kamu akan menyapa—atau aku saja yang menyapa—dan bertingkah seakan semuanya hanya berupa serendepiti. Kupikir kamu pasti akan diam, maka aku yang sudah pontang-panting tidak bersamamu selama 18 bulan ini pun akan memeras otak sampai akhirnya aku menemukan sebuah pertanyaan bodoh yang pertama kulontarkan padamu, “Apa kabar?” —dan jawabanmu pastilah, “Baik,” dengan nada yang absolut datar. Sedingin apapun, tapi rasanya aku ingin duduk di sebelahmu (lagi), seperti yang biasa aku lakukan selama tiga tahun bersamamu.
Aku tidak tahu berapa lama ada di dalam bis itu bersamamu. Apakah kita akan mengobrol sepanjang perjalanan seperti saat kita ujian beasiswa di Jakarta pada Juni 2007 silam? Atau apakah kita akan saling diam seperti saat kamu memainkan piano lagu Eyes On Me sementara aku mendengarkannya setiap nada yang kamu alunkan pada sebuah siang di tahun pertama kita bersama? Apapun.
Bis itu melaju menuju kampusmu: Jatinangor. Perjalanan itu tidak terasa. Sepertinya singkat saja—tapi tentu seolah masih lebih singkat masa putih abu denganmu, ahh… masa itu tidak akan pernah cukup. Hingga akhirnya tempat tujuanmu sudah di depan mata. Kamu turun, pun aku. Dan dengan wajah tanpa ekspresi—seperti biasa—kamu pamit. Dan, seperti sewajarnya juga, aku pun tidak akan menahanmu. Kamu pergi, aku pergi, dan kita tidak pernah mengucapkan selamat tinggal.
Seiring langkahmu kembali meninggalkanku, aku pun kembali belajar merasakan bagaimana melepaskanmu untuk sama sekali tidak merasa kehilangan™.
Dan… Tentu saja, semua ini seperti katamu: karena ada perpisahan, maka pertemuan menjadi sangat berarti.
.
.
CATATAN: Tiba-tiba berpikir seperti ini setelah tadi kakakku bilang bahwa dia melihatmu di Dipatiukur hari Rabu pagi minggu lalu. Bisa jadi tulisanku di atas aku realisasikan, atau mungkin juga tidak.
.
.
[]
.
.
Untuk Nii-chan terbaik sepanjang masa,
Seperti pertemuan, perpisahan pun tidak ada yang abadi.
Bandung, 8 Februari 2010, 22.06
Yasmin Nindya Chaerunissa