Ruang Kosong

.

.

Dia hampir selalu pulang dengan kendaraan umum untuk mencapai rumahnya. Setiap pulang dari kampus, jika kendaraan umumnya melewati suatu jalan, dia akan selalu memperhatikan sebuah rumah. Ya, rumah. Dia suka desain minimalisnya. Berharap suatu hari akan memiliki rumah seperti ini. Dia memperhatikan pagarnya, halamannya, lampunya, pintunya, lantainya, dindingnya… Sampai akhirnya pada suatu sore, dia mendapati rumah tersebut telah ditutupi pagarnya dengan sejenis plastik tebal sehingga tidak bisa dilihat dari luar.

“Kenapa? Kenapa pagar rumah ini ditutupi?” tanyanya.

Kemudian dia mendatangi pemilik rumah dan menanyakan perihal penutup pagar itu.

“Kenapa Pak, kenapa? Kenapa pagar rumah ini ditutup? Keberatankah Anda jika saya mengagumi rumah ini? Apakah salah kalau saya perhatikan setiap detail rumah Anda? Apakah sekedar menyukai dan ingin tahu lebih banyak merupakan dosa?”

.

.

Rangkaian di atas muncul begitu saja ketika saya pulang ke rumah dengan keadaan distorsi. Hari ini, Kamis, 2 Sepetember 2010, apa yang disebut Ruang Kosong semakin menjadi-jadi. Rangkaian di atas iseng saya reka-reka karena saya tidak ingin membiarkan adanya Ruang Kosong yang terlampau lama.

Pertama kali saya menyadari adanya Ruang Kosong adalah ketika saya membaca The Witch of Portobello, karangan Paulo Coleho. Ketika Athena, alias Sherine Khalil, menyadari adanya bahwa ada sebuah jeda dalam tarian-tariannya, seperti pada perubahan dari satu lagu ke lagu lainnya, yang di mana jeda tersebut adalah sebuah kekosongan. Kemudian dia belajar kaligrafi kepada seorang Bedouin di Dubai untuk lebih mengetahui tentang mengisi Ruang Kosong, mencari ibunya yang gipsi di Sibiu Rumania, hingga akhirnya bertemu Edda (dan masih panjang ceritanya sebelum akhirnya dia menjadi Hagia Sofia dan berpura-pura mati).

Bukan, di sini tidak akan saya ceritakan tentang buku tadi. Tapi, yang jadi masalah adalah, ketika Ruang Kosong tersebut menjadi bertambah luas. Sial. Sial sejuta sial.

.

Sore hari di angkot, saya pulang dengan keadaan mual dan muak. Entah kenapa beberapa jam terakhir tadi sepertinya saya merasa Ruang Kosong semakin luas dan perlahan-lahan mulai memakan pikiran lain yang ada. Dimulai ketika kuliah, saat ada dosen yang membiarkan menit ke menit menjadi kosong, membuat saya tidak berpikir, membuat orang lain bisa mengobrol, sementara saya belum sempat melakukannya. Sepersekian detik kemudian, Ruang Kosong muncul.

Padahal pagi hari saya datang ke kampus dengan semangat dan kebahagiaan yang begitu ‘wah’ kalau kata saya. Asa seneng we ke kampus teh. Pagi-pagi mandi, ke kampus, tidak terlambat, sepanjang ojeg nyanyi-nyanyi, sepanjang angkot baca buku, sepanjang jalan kaki monolog tentang perkuliahan agama di hari Rabu. Semua terasa menyenangkan.

Tapi ya itu, Ruang Kosong muncul, memperluas diri sendiri. Dan bertambah parah ketika ada di tempat ramai. Naik lagi tingkat keparahannya semua orang sibuk sementara saya tidak sesibuk mereka. Perlahan otak mulai tidak bisa menangkap pembicaraan. Tertinggal kereta. Tersesat. Beruntung jika betemu messiah, tapi tidak jarang juga berakhir gelap. Menghadap Tuhan sebentar, tapi rasanya tetap aneh saja (mungkin kurang lama? yaa, bisaaa).

.

.

Rasanya ingin melaporkan Maharani yang kecanduan. Tapi, seorang Anak Kemarin Sore tiba-tiba datang berkunjung (lagi). Rasanya akhir-akhir ini dia sering ada. Tidak seperti beberapa bulan lalu di mana aku berkata bahwa kali ini bukan dia, kali ini dia datang dan entah kenapa saya yakin kalau itu dia. Dan, kamu tau sejenis film yang melukiskan seorang anak pendiam dan memiliki gejolak traumatik masa lalu? Ya, bayangkan saja secara material fisik bahwa Anak Kemarin Sore itu seperti anak di film tadi.

Ada satu hal yang membuat saya merinding. Jika perasaan adalah hal yang paling mudah menular, maka saya tidak ingin dia dekat-dekat dengannya. Terlalu jahat memang kalau menyebutnya semacam Dementor yang dapat menghisap kebahagiaan orang lain. Tapi… (sekali lagi, bayangkan saja wujud anak itu) dia datang perlahan dalam diam, mula-mula memperhatikan saja dari kejauhan, mendekat beberapa langkah, muncul di cermin, mengikuti dalam bayangan, lalu tiba-tiba di sampingmu. Dia tidak bicara satu kata pun. Hanya diam dan tersenyum simpul. Dengan segala gumpalan kekecewaan, amarah, benci, dan kesedihan, dia pun terus muncul.

Dan, kamu pun menjadi gila. Tertular akan segala perasaannya. Akhirnya saya sadar, bahwa Anak Kemarin Sore adalah pecahan yang kabur dari Rumah Kaca Ilusi. Lebih jauh lagi kamu pun paham, dialah yang membawa Ruang Kosong.

.

Tidak, dia juga bukan Sephiroth. Sephiroth who hates anything around him, he starts to hate something, and in the end he hates everything. Anak Kemarin Sore membawa sesuatu yang menjaganya untuk tidak menjadi sejenis Sephiroth. Tapi tidak akan dibahas di sini.

Kamu tahu, ketika ia datang hari ini, aku bertanya apa yang dia lakukan, kenapa dia seolah seperti Yunhe atau Christine yang bermain peran opera. Akhirnya, dia menjawab, “Aku sudah terlalu sering diam dan menganggap segala sesuatu dengan biasa-biasa saja. Aku hanya ingin lebih berekspresi sedikit.” — Dia mengingatkanku pada jawaban Athena ketika tiba-tiba menangis di usia 19/20 tahun saat pertemuan terakhir dengan suaminya sebelum bercerai, “Aku sudah lama menahan kesedihan dalam diam.”

.

.

Petang ini aku mengirimkan pesan singkat dari telepon selulerku, pesan terakhir dari periode ini. Isinya bertanya tentang alasan kenapa si penerima pesan tidak melakukan sesuatu. Aku mengirim ketika Ruang Kosong semakin menjadi. Tapi yang mau aku ceritakan di sini adalah, saat itu Anak Kemarin Sore muncul, lalu dia menginfluensku dengan kalimat, “Terlalu lama sendiri, masih menganggap semua beban sendiri. Terlalu lama sendiri, belum siap berbagi. Terlalu lama sendiri, bukankah selama ini kamu juga tidak mati?”

Mendengar ucapannya, rasanya, ingin kubunuh anak itu.

Well, tenanglah, dia tidak mungkin mati sebelum aku. Ya, dalam kenyataannya tidak akan ada satupun yang dibunuh. Kalau pun harus ada yang mati, itu haruslah Ruang Kosong.

.

.

[]

.

.

Ditulis di ruang tengah rumah orang tua saya,

Setelah hujan, distorsi, Rumah Kaca Ilusi, dan Ruang Kosong.

Sebuah perpaduan laknat.

Bandung, 2 September 2010, 23.51

Yasmin Nindya Chaerunissa

11 Tanggapan to “Ruang Kosong”

  1. purnawarman Berkata

    pertama kali baca …
    resep pisan …tata bahasana….

  2. purnawarman Berkata

    tapi asa kirang jelas warna huruf dia tas back ground hitamna…

  3. Menarik… memaksa untuk membacanya hingga akhir…

    Fiksi atau pengalaman pribadi ini teh? :)

  4. … salam …

  5. Bagus banged! Pantas saja kalau pernah jadi juara 3 lomba cerpen di Balai Bahasa Bandung. Salut dan salam kenal selalu ^_^ Eh, kenal Ruth juga ya?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.