It Was So
Sudah sangat lama dari terakhir kali aku menuliskan catatan untuk kamu ya? Aku kira aku tidak akan menulis lagi tentang kamu, tapi ternyata hari ini aku tulis juga. Semoga saja tulisan ini tidak mengandung kutukan yang berbalik menyerang penulisnya, yakni aku, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya beberapa tahun kemarin. Aku sudah cerita, kan? Atau belum? Aku cuma ingat aku pernah bertanya sesuatu pada kamu sebelum kita jadi Maharani dan Maharaja di masing-masing bukit yang jauh terpisah. Kemudian, kita pun saling menuliskan ironi yang selama ini dibungkam oleh diam. Oh sial sekali aku saat itu.
Aku tidak akan membahas banyak hal. Tapi yaa… sedikit banyak aku tahu kalau kamu tahu apa yang terkadang aku pikirkan: ….. Baiklah, tidak akan aku tulis di sini, supaya tidak ada orang lain yang tahu tah? Iya, aku mengerti. Sangat mengerti.
Entah kenapa sampai sejauh ini aku masih bisa meilirik kitab usang tersebut. Padahal, itu tidak begitu enak dibaca. Lagi pula, seperti yang aku tulis di paragraf pertama: bisa jadi semua itu masih mengandung kutukan! Kamu tidak mengerti, seperti biasanya; kamu memang tidak mengerti seperti halnya dulu.
Sejauh yang aku ingat, kita pernah membuat rencana ini itu untuk alam dunia kita ya? Merasa sudah dewasa tentang segala macamnya. Sangat bangga satu sama lain dan percaya bahwa semuanya akan terwujud. Tapi, semanis apapun kamu (dan aku) saat itu, kamu (dan aku) tetap saja anak-anak. Dan, semua yang kamu (dan aku) bayangkan kala dulu… kita belum siap untuk itu. Lalu, semuanya pun menjadi puing rerutuhan. Kembali menjadi abu.
Aku lihat kamu sudah tidak sebocah dulu, pun aku. Ada kalanya kita bisa menarik sejarah ke masa kini untuk diulangi fenomena dan emosinya, tapi keadaan sekarang tidak sesimpel itu kan? Lagi pula, aku tidak mau. Namun, kenapa aku masih menulis catatan ini? Ini hanya selewat. Kamu tahu itu. Kita sama-sama tahu. Untuk kamu maka akan aku gunakan kalimat awam: yang lalu biarlah berlalu.
Ketika di awal aku mau menulis catatan ini, aku berniat menulis, untuk tahun depan biar aku yang menulis duluan. Tapi, kupikir itu tidak perlu. Tanggal ganjil di bulan ganjil itu, tidak usah kita ingat-ingat lagi. Untuk apa? Kamu masih tergeret-geret? Meski kita satu langit, tapi ya untuk apa? Tidak ada yang akan kembali ke masa lalu.
Iya, memang dulu aku berpikir akan memastikan sesuatu (tentang kamu dan aku) sampai waktu yang pernah kita toreh itu tiba, tapi ternyata (tampaknya) bagi kamu itu tidak penting kan? Aku dengan sabar memperhatikan monyet-monyetmu berkeliaran. Dan benar, kamu lebih mementingkan monyet kamu dari pada aku.
Tapi ya sudahlah. Untuk apa dibahas lagi. Waktu sudah banyak berlalu. Kurasa sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Ya kan. Kita sudah tahu artinya komitmen dan tanggung jawab.
Tinggalah di Bukit Timur, aku pun akan bahagia di Bukit Utara. Kalau suatu hari kita bertemu lagi dengan penuh suka cita, itu adalah hari di mana kita akan saling bahagia karena kita telah menemukan seorang sahabat pendamping hidup untuk kita masing-masing. Aku akan memberimu uacapan selamat, dan kau pun begitu. Janji ya, kalau aku menikah nanti kamu akan datang.
Tentang kita, itu… ya itu dulu. Perasaan yang ada, it was so. Terima kasih untuk pernah ada (pada masa lalu).
.
.
[]
.
.
Aku penasaran, 6 tahun yang lalu, apa yang kita pikirkan
Bandung, 9 April 2011, 13.46
Yasmin Nindya Chaerunissa
9 April 2011 pada 14:24
selalu suka baca tulisan-tulisan mu yash
9 April 2011 pada 14:34
danke rahmaa